efek psikologis khitanan

Sebelum khitanan bukan hal yang salah jika kita cek kesehatan menggunakan alat cek kesehatan QUantum Resonance Magnetic Analyzer Bahasa Indonesia atau QRMA agar khitanan bisa berjalan dengan lancar. Berbicara mengenai khitanan, banyak artikel yang lebih banyak membahas mengenai efek kesehatannya dibandingkan efek psikologis. Padahal dari beberapa penelitian yang masih terus dikembangkan, khitanan memberikan banyak efek psikologis. Kenyataannya bahwa sunat dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan pria. Efek positif sunat secara fisiologis ini juga berdampak secara psikologis pula. Pria yang telah disunat merasa lebih percaya diri dan puas karena telah bersih dan lebih aman dari penyakit. Bagi pria yang memeluk agama Islam, tentu ada perasaan lega dan percaya diri karena telah berhasil menjalankan perintah agamanya.

Namun tidak hanya efek psikologis sunat secara positif saja, sunat juga memberikan dampak negatif. Efek negatif khitanan secara psikologis adalah bisa memberikan efek trauma dalam jangka panjang. Pria yang disunat akan lebih sensitif terhadap rasa sakit dan bsa menjadi trauma seumur hidup. Meskipun pada saat proses sunat diberikan obat bius, tetap saja rasa sakit masih dirasakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria yang disunat merasa mengalami kekerasan seksual, mutilasi dan tidak diperlakukan dengan layak. Akibatnya secara psikologis, pria yang disunat cenderung menjadi mudah marah, merasa malu, memiliki penghargaan diri yang rendah, takut dan tidak mudah percaya pada orang lain. Secara umum, kebanyakan pria merasa tidak bahagia karena telah disunat.

Sunat yang dilakukan pada saat masih bayi atau anak-anak juga memberi efek psikologis sunat pada hubungan antara ibu dan anak. Bayi atau anak cenderung mengkonsepkan ibu sebagai penyebab rasa sakit yang dideritanya itu. Akibatnya secara tidak langsung akan membuat anak membuat jarak dengan ibunya. Anak jadi tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhannya. Ibu juga akan frustasi karena hanya menerima sedikit respon dari sang anak.

Beberapa penelitian lain juga menyebutkan ada hubungan antara efek negatif khitanan dengan kekerasan terhadap perempuan. Pria yang disunat memiliki tingkat kemarahan yang cenderung lebih tinggi dan kurang menghargai diri sendiri. Sikap mental seperti ini terkadang membuat pria tersebut menyakiti wanita untuk melarikan emosinya.

Efek psikologis sunat juga memberikan dampak bagi hubungan sosial. Trauma yang dialami oleh pria yang telah disunat cenderung membuatnya susah memiliki hubungan dengan lawan jenis. Selain itu, dia mengalami kecemasan dalam berhubungan seksual dan tak jarang merasa depresi. Akibatnya, keharmonisan dengan lawan jenisnya akan terganggu. Untuk menyembuhkan trauma dan mengembalikan mental menjadi lebih baik diperlukan peran psikologis dan keterbukaan pria tersebut sebagai korban dari tindakan sunat.