(Penyakit Rematik Tulang)
Form Hasil Analisa

Nama: Contoh(Pria)Jenis Kelamin: PriaUmur: 40
Figur: 175cm ,70kgTanggal Ujian: 16/03/2017 09:20

Column
Hasil Pengujian Aktual
Barang pengujianRentang normalNilai Pengukuran yang sebenarnyaHasil pengujian
Tingkat Pengapuran Tulang Leher421 - 490479.605
Tingkat Pengapuran Tulang Belakang4.326 - 7.5316.056
Kofisien Penebalan Tulang2.954 - 5.5434.388
Kofisien Osteoporosis2.019 - 4.7214.385
Kofisien Rematik4.023 - 11.62717.157
Referensi Standar:
 Normal(-) Abnormal Ringan(+)
 Abnormal Sedang(++) Abnormal Berat(+++)
Tingkat Pengapuran Tulang Leher:421-490(-)490-510(+)
 510-540(++)>540(+++)
Tingkat Pengapuran Tulang Belakang:4.326-7.531(-)7.531-8.214(+)
 8.214-9.137(++)>9.137(+++)
Kofisien Penebalan Tulang:2.954-5.543(-)5.543-6.172(+)
 6.172-7.419(++)>7.419(+++)
Kofisien Osteoporosis:2.019-4.721(-)4.721-5.174(+)
 5.174-6.247(++)>6.247(+++)
Kofisien Rematik:4.023-11.627(-)11.627-16.131(+)
 16.131-19.471(++)>19.471(+++)
Parameter Deskripsi
Tingkat Pengapuran Tulang Leher:
Menunjukkan tingkat pengendapan pada tulang belakang bagian leher (servikal) yang mengalami hiperplasia. Jika tidak ada pengapuran berarti tidak terjadi penebalan tulang, begitu juga sebaliknya. Pengapuran ringan menunjukkan tingkat penebalan mencapai 30x, sedangkan pada pengapuran berat, tingkat penebalan mencapai 70x.
Tingkat Pengapuran Tulang Belakang:
Seperti halnya pengapuran pada tulang leher, pengapuran pada tulang belakang juga menunjukkan tingkat penebalan tulang tersebut.
Kofisien Penebalan Tulang:
Ini adalah keadaan tulang. Dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan fungsional penyelesaian tulang, beberapa bagian kehilangan bentuk normal. Hiperplasia tulang dalam berbagai bentuk dan memiliki karakteristik mereka sendiri karena bagian yang berbeda. Misalnya, hiperplasia sendi lutut sering disebut 'taji tulang', dan ada Intra-artikular badan longgar dan hiperplasia tulang rawan. Hiperplasia tulang terutama tulang menunjukkan perubahan 'bibir-seperti' dari tubuh vertebral, mengompresi saraf, sehingga tidak normal akal tungkai dan kelainan motorik.
Kofisien Osteoporosis:
Ini adalah fenomena pengurangan tulang seluruh tubuh. Hal ini terutama menunjukkan bahwa isi dari matriks tulang berkurang secara signifikan, sedangkan komponen mineral (terutama yang mengandung kalsium dan fosfor) dalam tulang pada dasarnya normal. Dengan kata lain, pada osteoporosis, kandungan protein dan zat organik lainnya dan air dalam tulang yang menurun, dan kadar kalsium, fosfor dan mineral lainnya di tingkat normal. Matriks tulang memainkan peran dukungan dan hubungan antara kalsium, fosfor, dan mineral lainnya. Jadi, jika matriks tulang berkurang, kesenjangan antara mineral meningkat, yang dinyatakan sebagai osteoporosis. Dengan kemajuan osteoporosis, kalsium, fosfor dan mineral lainnya dalam tulang juga akan terus hilang dan berkurang, dan karena itu matriks tulang dan mineral dari tulang menurun. Osteoporosis di usia tua sebenarnya merupakan konsekuensi dari kekurangan kalsium jangka panjang. Secara umum, kalsium tulang laki-laki setelah usia 32 dan wanita setelah usia 28 mulai kehilangan. Dengan bertambahnya usia, tingkat kerugian juga akan dipercepat. 50% kalsium tulang telah hilang pada saat usia 60 tahun. Dengan demikian, saat ini, saatnya untuk mencegah patah tulang dan mencegah osteoporosis dan suplemen kalsium. Oleh karena itu, nutrisi diet sangat berhubungan dengan terjadinya osteoporosis. Anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun harus mengambil 1.200 mg kalsium setiap hari, dan orang dewasa harus mengambil 800 mg kalsium setiap hari. Pada saat yang sama, ia perlu mengambil dalam banyak vitamin D untuk membantu tubuh lebih mudah dan lebih efektif menyerap kalsium.
Kofisien Rematik:
Rematik mempunyai pengertian dalam arti luas dan sempit. Dalam arti luas, rematik mengacu pada sekelompok penyakit yang berdampak pada sendi, tulang dan jaringan sekitarnya seperti tendon, otot, cairan sinovial, fasia, dan sebagainya. Dalam arti sempit, rematik mengacu pada penyakit radang sistemik akut maupun kronis yang berulang dari jaringan ikat yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas akibat kuman Streptokokus hemolitikus Grup A. Gejala yang paling jelas adalah gangguan jantung (terutama katup jantung) dan lesi sendi.

Hasil uji atau analisa hanya untuk referensi saja dan bukan sebagai diagnosa.