resiko khitanan

Secara bahasa khitan artinya memotong, yaitu memotong kulit paling ujung dari kemaluan laki-laki yang disebut dengan kulup. Sebenarnya khitan atau sunat ini bukan memotong kulup hingga putus dan membuangnya, tetapi pada prinsipnya membuka kulup tersebut dan melipatnya keluar hingga lubang jalan keluar air kencing dapat terbuka sempurna. Sehingga semua kotoran yang keluar bersama air kencing dapat keluar bebas tanpa ada penghalang. Sehingga khitan ini sangat bermanfaat bagi laki-laki baik besar maupun kecil, dan tidak jarang kita jumpai dokter-dokter anak menganjurkan sunat anak ataupun sunat bayi. Khitan atau dalam bahasa medis disebut dengan circumcision ini telah dikenal luas oleh masyarakat di dunia, bahkan sekitar 30% populasi laki-laki di dunia telah disunat meskipun ada beberapa negara yang tidak merekomendasikannya apalagi sunat bayi.Sebelum melakukan khitanan bukan hal yang salah jika terlebih dulu mengecek kesehtan menggunkan alat cek kesehatan Quantum Resonance Magnetic Analyzer atau QRMA bahasa Indonesia agar khitanan bisa berjalan dengan lancar.

Circumcision digolongkan dalam operasi kecil karena melalui proses pembedahan yaitu memotong, ada pembiusan baik lokal ataupun total (pada sunat bayi), dan penjahitan. Khitan dapat dilakukan ketika masih bayi ataupun sudah dewasa, bahkan tidak menutup kemungkinan ketika seseorang sudah berusia senja. Sunat anak atau sunat bayi biasanya dilakukan karena anak menderita fimosis yaitu menumpuknya sedimen yang terkandung di dalam urin pada kulup sehingga membuat kemaluan anak menjadi bengkak, memerah, dan sakit. Jika pengobatan yang dilakukan dokter masih belum membuahkan hasil, maka biasanya dokter anak akan menganjurkan melakukan sunat anak atau sunat bayi.

Banyak orang tua mengalami dilema antara memilih anaknya dikhitan atau terus menerus menderita fimosis. Mereka khawatir akan efek samping atau bahaya yang akan menimpa anaknya jika disunat terlalu dini, mungkin mereka pernah mendengar adanya kasus anak mati sesudah sunat. Benarkah khitanan pada bayi dan anak bisa menyebabkan kematian? Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi besar tidaknya resiko khitanan pada bayi yang bisa jadi itulah sebab sesungguhnya anak mati sesudah sunat.

1. Anak tersebut menderita hemofilia (terutama hemofilia mayor). Hemofilia adalah penyakit kelainan pembekuan darah, yaitu jika terjadi pendarahan maka darahnya akan sulit berhenti. Oleh karena itu sebelum sunat bayi dilakukan, harus dipastikan bahwa anak tersebut tidak menderita penyakit ini.

2. Kondisi kesehatan anak sedang tidak fit sehingga kemungkinan besar anak tersebut mudah terjangkit penyakit karena daya tahan tubuhnya sedang lemah. Apalagi jika bayi atau anak rewel dan tidak mau makan.

3. Tukang khitan yang belum berpengalaman atau kurang menjaga kebersihan dalam proses khitan. Oleh sebab itu sebaiknya memilih dokter anak atau bidan bila menghitankan anak.

4. Tindakan yang salah dalam perawatan luka bekas sunat. Orang tua harus benar-benar menjaga bayinya jangan sampai luka sunat terkontaminasi misalnya dengan kotoran bayi ketika buang air besar. Karena luka bekas sunat akan mengalami infeksi, dan jika tidak segera ditangani akan semakin parah. Ini juga bisa menjadi salah satu sebab anak mati sesudah sunat. Demikian juga orang tua harus rajin mengganti popok atau celana jika bayinya buang air kecil.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada sunat bayi atau sunat anak. Jadi bukan khitan itu sendiri yang menyebabkan anak mati sesudah sunat, tetapi penyebab lain baik dari anak yang dikhitan, orang yang mengkhitan, prosesnya, dan perlakuan luka khitan setelah khitan selesai.